hmm.. provokatif ga sih judulnya? mungkin bisa, tapi mungkin juga tidak. mungkin iya, jika dilihat dari sudut pandang idealnya mahasiswa. tapi tidak, jika kita sedikit menilik pada fakta yang sering terjadi baru-baru ini.
ketika melihat seputar indonesia sore ini, tiga berita pertama semuanya adalah tentang tawuran. dan yang paling menyedihkan semua terkait dengan mahasiswa. berita pertama, adalah bentrokan antara warga dan mahasiswa. dipicu oleh rombongan warga pengantar jenazah yang terhalangi oleh mahasiswa yang sedang demo, menuntut kejelasn kasus tertembaknya seorang mahasiswa pada demo sebelumnya oleh polisi. anehnya, pada kejadian ini tidak ada keterlibatan polisi. berita kedua, bentrok mahasiswa dengan polisi. mahasiswa bersenjatakan batu. kalo tidak salah ada 3 orang mahasiswa yang berhasil dihajar polisi, dan satu orang polisi dikeroyok mahasiswa. mahasiswa terdesak kemudian bersembunyi di balik gerbang kampusnya. sampai saat berita selesai, kabarnya polisi masih berjaga2 di sekitar kampus. kedua berita tersebut, oleh-oleh sodara kita dari makassar. berita ketiga, tawuran di kupang. 1 orang meninggal, karena serangan jantung mendengar kampusnya di serang!
hebatnya mahasiswa. bisa jadi headline seputar indonesia. mengalahkan topik 33 milyar anggaran renovasi 232 ruangan DPR! ck..ck..ck.. mungkin kalo ki hajar dewantara masih hidup, mungkin beliau stres liat kelakuan anak2 bangsanya yang selama hidupnya dia cita2kan untuk bisa mengenyam pendidikan yang lebih baik. mahasiswa sekarang mungkin berubah konteks yang dahulunya adalah seorang cendikia, orang pintar, cerdas dan berbudi, kemudian berubah menjadi hanya sebagai status yang ada di KTP, status untuk naik bus lebih murah, dan bahkan bisa menjadi status sosial yang bisa mengangkat nama orang tua di mata masyarakat kampungnya, dimana orang tua bisa berkata “saya bisa sekolahkan anak sampe jadi mahasiswa haha!!”.
mahasiswa di Indonesia sudah hampir kehilangan identitasnya. meski saya akui, mahasiswa yang seperti itu tidak semuanya. masih banyak mahasiswa yang peduli dengan cita-citanya, keluarga, dan bahkan bangsanya. tapi, itu bisa menjadi cerminan bahwa mahasiswa seharusnya bukan hanya sebagai titel dan status. tapi seharusnya yang dikatakan mahasiswa itu tidak hanya cerdas otaknya tapi juga cerdas dalam menentukan sikap. sungguh memalukan jika kita melihat contoh2 idealisme demokratis yang kebablasan seperti di berita2 media massa. yang namanya mahasiswa itu seharusnya pake otak, bukan pake otot! untuk apa sekolah tinggi2, bayar mahal, susah masuknya susah keluar, eh..berunding pake golok!klo menyelesaikan masalah dengan otot mah itu kuli, bukan mahasiswa. kuat2an pake golok itu mah preman, bukan mahasiswa. mending ga usah sekolah aja sekalian.
kalo memang mau demo ya monggo … tapi demo yang tentram aja. unjuk rasa damai aja.. memang kadang yang namanya polisi itu menyebalkan, kan mereka ga sekolah kaya kita. mereka kan ga ngerasain jadi mahasiswa (akpol soalnya hehehe), mereka aja sekolahnya pake otot dan duit. jadi ga pake otak. lah klo kita kan mesti pake otak, kalo ga kan ga lulus-lulus.. apa bedanya kita yang pinter ini ma polisi yang ga pake otak?! makanya .. jadi mahasiswa pinter2lah bawa diri dan junjung idealisme se damai mungkin. jika memang kita harus clash masalah idealisme atau pendapat. selesaikanlah dengan kepala dingin. klo aksi nya damai, polisi toh juga ga akan bertindak agresif. ya kan?! aksi damai bukan cuma turun ke jalan. sebagai contoh gunakan media massa dan juga bergabung dengan LSM-LSM. jika berdasarkan fakta yang riil dan kuat, pasti kebenaran itu ada jalan..
Salam Mahasiswa!!